Pages

Minggu, 12 Januari 2014

Pengertian Akal

  Akal
Akal berasal dari bahasa Arab ‘aqala-ya’qilu’ yang secara lughawi memiliki banyak makna, sehingga kata al ‘aql sering disebut sebagai lafazh musytarak, yakni kata yang memiliki banyak makna. Dalam kamus bahasa Arab al-munjid fi al-lughah wa al a’lam, dijelaskan bahwa ‘aqala memiliki makna
adraka (mencapai, mengetahui), fahima (memahami), tadarabba wa tafakkara (merenung dan berfikir). Kata al-‘aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti nurun nuhaniyyun bihi tudriku al-nafsu ma la tudrikuhu bi al-hawas, yaitu cahaya ruhani yang dengannya seseorang dapat mencapai, mengetahui sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indera.  Al-‘aql juga diartikan al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.
pendapat Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang  membuat  seseorang dapat  membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera. Di kalangan Mu’tazilah akal memiliki fungsi dan tugas  moral, yakni di samping untuk memperoleh pengetahuan, akal juga memiliki daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan, bahkan akal merupakan petunjuk jalan bagi manusia dan yang membuat manusia menjadi pencipta perbuatannya sendiri (Harun Nasution, 1986: 12).

Fungsi dan Kemampuan Akal Sebagai alat, filsafat merupakan hasil dari pekerjaan akal. Meskipun segala sesuatu dengan jalan meragukan segala sesuatu itu, jalan untuk bebas bertanya, mencurigai semua kenyataan dan mengusut sejauh mungkin penerimaan-penerimaan pikiran manusia sampai tempat persembunyian. Dan pada akhirnya akal akan sampai pada suatu penolakan atau pada suatu pengakuan yang jujur, bahwa akal mempunya kemampuan dan juga mempunya keterbatasan.


Akal adalah alat berpikir, berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban, mencari jawaban adalah usaha untuk menemukan kebenaran, sehingga dengan demikian para filosof memandang bahwa akal adalah salah satu alat yang ampuh untuk mencari hakekat kebenaran. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa keistimewaan manusia, terletak pada akal yang merupakan potensi untuk berpikir. Bertambah tinggi daya berpikir manusia, bertambah pula kemampuan untuk memecahkan problema yang dihadapinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar