Akal
Akal
berasal dari bahasa Arab ‘aqala-ya’qilu’ yang secara lughawi memiliki banyak
makna, sehingga kata al ‘aql sering disebut sebagai lafazh musytarak, yakni
kata yang memiliki banyak makna. Dalam kamus bahasa Arab al-munjid fi al-lughah
wa al a’lam, dijelaskan bahwa ‘aqala memiliki makna
adraka (mencapai,
mengetahui), fahima (memahami), tadarabba wa tafakkara (merenung dan berfikir).
Kata al-‘aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti nurun nuhaniyyun
bihi tudriku al-nafsu ma la tudrikuhu bi al-hawas, yaitu cahaya ruhani yang
dengannya seseorang dapat mencapai, mengetahui sesuatu yang tidak dapat dicapai
oleh indera. Al-‘aql juga diartikan
al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.
pendapat
Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang
membuat seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda-benda lain,
dan mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera. Di kalangan
Mu’tazilah akal memiliki fungsi dan tugas moral, yakni di samping untuk
memperoleh pengetahuan, akal juga memiliki daya untuk membedakan antara
kebaikan dan kejahatan, bahkan akal merupakan petunjuk jalan bagi manusia dan
yang membuat manusia menjadi pencipta perbuatannya sendiri (Harun Nasution,
1986: 12).
Fungsi dan
Kemampuan Akal Sebagai alat,
filsafat merupakan hasil dari pekerjaan akal. Meskipun segala sesuatu dengan
jalan meragukan segala sesuatu itu, jalan untuk bebas bertanya, mencurigai
semua kenyataan dan mengusut sejauh mungkin penerimaan-penerimaan pikiran
manusia sampai tempat persembunyian. Dan pada akhirnya akal akan sampai pada
suatu penolakan atau pada suatu pengakuan yang jujur, bahwa akal mempunya
kemampuan dan juga mempunya keterbatasan.
Akal
adalah alat berpikir, berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari
jawaban, mencari jawaban adalah usaha untuk menemukan kebenaran, sehingga
dengan demikian para filosof memandang bahwa akal adalah salah satu alat yang
ampuh untuk mencari hakekat kebenaran. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa keistimewaan
manusia, terletak pada akal yang merupakan potensi untuk berpikir. Bertambah
tinggi daya berpikir manusia, bertambah pula kemampuan untuk memecahkan
problema yang dihadapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar